![]() |
| pasuska/pramuka ponpes attanwir |
Keterlibatan santri dalam perjuangan kemerdekaan adalah fakta yang tak bisa dielakkan. Jauh sebelum kebangkitan nasional terjadi, kelompok santri sudah mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Banyak diantara mereka yg gugur sebagai pahlawan cum syuhada'. Beberapa diantaranya kemudian diabadikan namanya oleh pemerintah dg diangkat sebagai pahlawan nasional, kebanyakan lainnya tak lagi dikenal namanya, namun semangatnya selalu dikenang sebagai epos kepahlawanan -setidaknya di kalangan santri sendiri-.
Nur Cholis Majid mengidentifikasi santri sebagai mereka yg belajar agama pada seorang kyai, mengikuti kyainya. Dalam perkembangan kemudian, ada dua tipologi santri yg dikenal dalam masyarakat: santri mukim (bertempat tinggal di pesantren) dan santri kalong (berangkat hanya saat mengaji dan pulang lagi setelah selesai mengaji).
Kelompok ini pula -dalam sidang PPKI- lewat K.H. wahid Hasyim yg mula-mula mau menerima masukan dari perwakilan Timur untuk menghapuskan 7 kata dlm piagam Jakarta sehingga mampu mempengaruhi Ki Bagus Hadikusumo untuk memformulasikan ulang semangat keberagamaan dalam dasar Negara yang hari ini kita kenal sebagai sila pertama dalam pancasila. Bukti bahwa semangat kebangsaan kelompok ini tak bisa diragukan.
Kelompok ini pula -sebagai organisasi islam- yg pertama kali menerima pemberlakuan pancasila sebagai asas tunggal; meski harus dicibir sana-sini. Jika hanya untul kepentingan golongan, kelompok ini tak pernah sekalipun melawan pemerintah. Terbukti saat presiden dari kelompok mereka dilengserkan scra inkonstitusional karena fitnah2 murahan yg disusul dg berbagai demonstrasi dari saudara seiman yang mengaku lebih modern, arus bawah sempat akan melawan tapi para kyai berfatwa: tak ada jabatan yg harus diperjuangkan mati2an. Sekali lagi, bukti dari komitmen kebangsaan yg benar2 tinggi.
Kini mereka terluka. Setelah dicibir sana-sini karena mendukung pemerintah yg ingin membubarkan organ anti pancasila, kini mereka kembali dicibir karena melawan kebijakan pemerintah yang mengancam umat dan penanaman semangat kebangsaan: pemberlakuan #FDSsecara paksa lewat permendikbud 23 tahun 2017 dengan dalih pendidikan karakter -meski presiden bilang ini opsional-. Yang mengherankan, masih ada pula saudara seiman yg memfitnah mereka lewat video tak bermutu.
Kelompok ini tak bergeming, mereka masih tetap melawan: gelombang perlawanan pun dilakukan di berbagai daerah secara massif dan struktur, lewat berbagai demonstrasi dan istighosah. Mereka, tidak mau begitu saja menyerahkan pendidikan agama pada sekolah2 negeri dg guru dan waktu yang seadanya. Mereka percaya bahwa belajar agama harus pada ahlinya, pada ustadz dan kyai lulusan pesantren yg sanadnya sampai pada kanjeng nabi Saw. Meski terluka, mereka tetap melawan dnegan menggaungkan #JihadtolakFDS tanpa meminta belas kasihan. Pembatalan permendikbud 23 adalah harga yang tak bisa lagi ditawar.
Perlawanan mereka terhadap #FDS bukan hanya karena #FDS mengancam eksistensi Madin, melainkan lebih dalam dari itu. Mereka percaya bahwa kyai2 pengelola madin adalah kyai2 yg cinta tanah air karena sll mengingat fatwa hadratus syaikhnya -K.H. Hasyim Asy'ari- حب ال وطن من الايمان , sehingga dalam madin selalu ditanamkan juga jiwa utk selalu mencintai tanah air: buktinya tak ada satu pun santri lulusan madin yg menjadi teroris ataupun yg memberhalakan pancasila, kecuali mereka yg sewaktu kuliah memperbaharui pemahaman keagamaan mereka lewat kelompok2 yg baru muncul ke permukaan pasca reformasi '98.
Sementara sekolah negeri, beberapa kali kecolongan materi buku ajar keagamaan yang mengajarkan kekerasan. 
Ya, baru kali ini mereka benar-benar melawan, perlawanan yang sama sekali tidak mengganggu kehamronisan berbangsa dan tak sedikitpun meredupkan semangat kebangsaan -bahkan mereka juga melawan untuk semangat kebangsaan-. Tetaplah melawan dengan terhormat.-Meski tidak seberapa- aku hanya bisa memastikan bahwa tak akan ada satu pun anggota keluargaku yang bersekolah di sekolah negeri selama #FDS masih dipaksakan pemberlakuannya.
Ditulis setelah mengirimkan fatihah kepada anggota PPKI yang bersidang pada hari ini: 72 tahun yang lalu.
Kampung Halaman
Jum'at, 18 Agustus 2017.
#JihadtolakFDS




